Langsung ke konten utama

Waktu adalah Pedang...!

Edy Siswanto
"Al-waqtu kas-saif illam-taqtho'hu qatha'aka"Waktu ibarat pedang, jika kamu tidak memotongnya, niscaya pedang itu yang akan memotongmu.."
Kita termasuk orang yang merugi ketika kita tidak dapat menggunakan waktu dengan baik. Dalam tafsir surat Al- Ashr’ yang artinya .. Demi masa,[1]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,[2]. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”[3] Dalam Islam, waktu bagaikan pedang. Barang siapa tidak dapat menggunakan pedang dengan sebaik-baiknya, maka pedang tersebut akan melukai kita, yang berarti bisa mendatangkan dosa. Apakah kita tidak merugi apabila waktu luang yang ada hanya digunakan untuk ngerumpi yang ujung-ujungnya menggunjing orang lain. Alangkah indah dan bermanfaatnya jika waktu luang itu kita gunakan untuk membaca.
Sebenarnya kita sebagai orang Islam sudah tidak asing lagi dengan surat yang pertama kali turun di gua Hira’ yaitu surat Al Alaq. Mengenali dan membaca Wahyu Tuhan yang diturunkan pertama kalinya, yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, Jibril berkata: “Iqra’ ” (bacalah), :Ma aqra’?” (tetapi apa yang harus dibaca?) tanya Nabi – pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut “Bismi Rabbika”, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan (Ary Ginanjar A. ESQ . hal :120). Berkata Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsirnya: “Tidak didapat kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang lebih sempurna daripada ayat ini di dalam menyatakan kepentingan membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bahagianya. Dengan itu pula dibuka segala wahyu yang akan turun di belakang.”
Tetapi mengapa bangsa kita yang mayoritas beragama Islam belum menjadikan membaca (Iqra’) sebagai pembiasaan sehari-hari. Taufiq Ismail seorang sastrawan Indonesia yang terkenal mengatakan bahwa. “Kita telah menjadi bangsa yang rabun membaca buku dan lumpuh menulis”. Alangkah ruginya kalau waktu luang  terbuang percuma, seperti: ketika kita sedang antri di bank, antri membayar pajak, menunggu istri belanja, naik kereta api, menunggu teman, di rumah sakit dll. Seharusnya sebagai pemeluk agama Islam, kita gunakan waktu untuk membaca agar bertambah ilmunya.
Berbeda dengan orang Jepang dan negara-negara maju lainnya, mereka selalu membawa buku kemana dan dimanapun berada untuk mengisi waktu ketika ada kesempatan. Kita dapat melihat ketika mereka naik pesawat dan kereta api, mereka selalu membaca entah itu peta atau bacaan ringan.
Terutama dikalangan pendidik, marilah generasi anak bangsa ini kita biasakan membaca menjadi hiasan kegiatan sehari-hari.  Budaya gemar membaca ini akan sangat efektif ketika orang tua dan guru selalu berkolaborasi untuk saling mendukung. Apalagi pemerintah, kantor serta instansi-istasnsi semuanya memberikan buku bacaan, koran dsb untuk mengisi waktu demi waktu itu.
Di bulan puasa yang penuh kebaikan dan barakah ini, tidur saja berpahala. Jadi lebih baik tidur dari pada kita menggunakan waktu yang pada akhirnya mendatang dosa. Tetapi akan lebih berpahala lagi jika kita gunakan waktu itu untuk membaca.
Jadi dengan membaca, kita dapat memanfaatkan pedang untuk menghindari diri dari dosa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru itu Pelawak

        Pada zaman dulu seorang guru dengan bangganya tanpa membawa buku dapat menerangkan  engan tuntas selama 2 jam penuh. Itulah guru hebat saat itu. Guru berlomba-lomba dalam menstaranfer ilmunya dengan metode ceramah. Pokoknya guru menjadi pusat perhatian atau Teacher center. Waktu sepenuhnya untuk guru. Sedikit sekali anak didik terlibat dalam pemebelajaran. Maka rasa bosan akan muncul disepanjang pembelajaran.         Karena bosan maka guru harus dapat memberikan suasana riang gembira untuk mengusir rasa bosan atau bahkan rasa kantuk yang tidak terhingga. Apalagi jam-jam terakhir guru harus piawai dalam mengendalikan pembelajarannya. Dengan guru sebagai pelawak maka suasana akan kembali segar dan muah untuk melanjutkan pembelajarannya.      Perlunya rasa humor dalam pembelajaran sangat penting. Konsentrasi seseorang akan bisa bertahan paling lama 20 menit. "Kebanyakan guru tidak paham soal ini. Mereka bic...

GURU ITU ENTREPRENEUR

Guru harus dapat mempersiapkan anak didiknya   sukses di dunia. Sukses tidak hanya diukur dalam dunia materi. Namun dapat hidup dengan penuh makna. Hidup penuh makna itu seperti dalam hadits “ Qoirunnas anfauhumlinnas” . Sebaik baiknya manusia itu dapat menyenangkan orang lain. Jadi dimanapun mereka berada selalu menjadi bermakna bagi sekitarnya. Orang tua tidak harus disuguhi dengan nilai akademis yang tinggi, namun tunjukkan nilai kehidupan yang bermakna bagi orang lain. Saat ini sudah bukan eranya untuk mempersiapkan anak didik untuk menjadi pegawai. Mempersiapkan anak untuk berjiwa entrepreneur adalah tugas guru sekarang. Dunia sekarang sudah berubah. Walaupun guru bukan pelaku usaha atau jiwa entrepreneurship , namun menimal memberikan pilihan untuk mempersiapkan hidup ke depan seuai dengan bidang mata pelajarannya masing-masing. Dunia teknologi sudah menggrogoti jiwa anak sekarang. Dimanapun berada HP atau smartphone sudah mencandui generasi muda dimanapun be...

Guru Itu Perencana

Selama jadi guru penulis jarang sekali mepersiapkan perencanaan pembelajaran sebelum mengajar. begitu lamanya jadi guru sudah hapal materi dan metode yang akan diterapkan besuk paginya. Sehingga langsung masuk ke kelas melihat jurnal menyapa anak didik, Guru sudah hafal melakukan EEK.  malakukan arena ini guru