Langsung ke konten utama

GURU SEBAGAI PELAYAN BISA MENCEGAH STRESS DI MASA MENDATANG

Edy Siswanto

Roda Kehidupan
   Dunia saat ini kecil, bahkan terasa sangat sempit. Dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat seakan-akan dunia kita dapat dibawa kemana-mana. Demikian juga perkembangan manusia yang begitu berjubel dalam mempertahankan hidupnya, sehingga banyak pula yang tidak bisa menikmati hidup dengan layak dan panjang umur. Kurang siapnya para pegawai negeri untuk pensiun membuat mereka tidak bisa menikmati sisa hidup di keluarga maupun di masyarakat. Sebagai kelanjutan dari ”Guru bukannya sebagai majikan, tetapi sebagai pelayan siswa” saya  ingin mengutarakan dampak dari guru sebagai pelayan yang bisa membuat hidup enak dan umur panjang. Walaupun hak prerogatif  umur ada di tanganNya, namun salah satu cara membina dan merawat umur panjang adalah menyadari kenyataan yang ada dan mengikhlaskan diri sebagai manusia biasa. Bukannya menjadi manusia super sepanjang masa sehingga akan terjerumus menjadi manusia penuh dengan keputus asaan.
   Fenomena kurang menyadari realita akan perputaran roda hidup, banyak menimbulkan penyakit yang berakibat pada pendeknya usia manusia. Generasi tua yang mayoritas masih terkena penyakit kolonial (mental penjajah) akan menimbulkan masalah setelah mereka lepas dari pekerjaan (pensiun).

Mental Priyayi
Peninggalan penjajah yang bisa dirasakan oleh generasi sekarang adalah pemasungan ide atau kreativitas generasi penerus, sehingga kebiasaan main perintah dan kebiasaan asal bapak senang sangat melekat di hati para generasi tua. Kalau hal ini tidak bisa dikendalikan akan berakibat berbahaya bagi dirinya maupun lingkungannya.
 Kalau kita cermati, mereka yang berstatus sebagai pegawai negeri apalagi hidup di pedesaan, merupakan penghargaan yang sangat tinggi baginya dan akan sulit melepaskan diri dari predikat tersebut, walaupun mereka sudah tidak bekerja lagi (pensiun). Mereka inilah yang mayoritas akan mengalami tekanan batin, sehingga bisa berakibat fatal pada kesehatan dirinya. Kebanyakan mereka akan terkena tekanan batin/stress berat sehingga mengakibakan timbulnya berbagai penyakit dan akan berakibat pada kematian dini.
Kata syair lagu “lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati” memang betul adanya. Misalnya, sebagai seorang pegawai yang setiap hari bekerja di kantor dengan berbagai kebutuan dan teman yang setia menemani dan saat pensiun tiba-tiba mereka tak lagi bisa menemukan suasana seperti di kantor, akan menimbulkan masalah tersendiri. Dengan kenyataan ini perlu sekali adanya masa persiapan pensiun untuk mempersiapkan para pegawai negeri beradaptasi dengan lingkungannya. Sebetulnya lingkungan ini tidak baru, kalau kita menyadari bahwa perubahan ini memang harus terjadi dan berlangsung pada diri kita.
Jika menyadari pada suatu saat nanti, kita akan tidak bekerja lagi seperti amtenar kota yang tiap pagi berangkat dengan seragam dan bersepatu bagus kemungkinan akan tidak terkena stress. Sehingga dibutuhkan sikap untuk bisa menyesuaikan diri dengan keluarga dan lingkungannya. Kondisi ini kemungkinan akan semakin bisa menikmati sisa hidup dengan keluarga juga tetangga dan bahkan berguna bagi masyarakat sekitarnya.

Abdi Negara
Kata abdi bisa banyak mengandung makna. Menurut kamus W.JS. Poerwadarminta, abdi berarti hamba, orang bawahan, budak tebusan. Jadi, kita sebagai abdi negara bukanya pegawai yang minta dilayani dan diberi upeti supaya mengerti. Namanya saja budak ya kita harus menyadari bahwa pekerjaan yang kita lakukan demi kelangsungan dan kepuasan seluas-luasnya untuk hajat hidup orang banyak. Kalau kita menyadari hal itu, kita akan menikmati sisa hidup di masyarakat dengan bebas serta tidak merasa diperintah oleh pekerjaan bahkan akan menimbulkan kreasi seni dalam hidup tersendiri.
   Kita menyadari bahwa, hidup ada di tangan Tuhan Sang Pencipta, tatapi kalau kita sendiri menyia-nyiakannya akan terasa hambar, pengap, sesak dan sempit arti hidup ini. Bisa jadi sampai di akhir usia, kita tidak bisa menimang cucu yang akan hadir untuk menggantikan dan meneruskan perjuangan kita. Belum siapnya para pegawai negeri untuk pensiun adalah karena tidak adanya pekerjaan sebagai pengganti kesibukan setiap hari di rumah maupun di lingkungannya. Sehari dua hari tidak terasa, namun kalau hari berganti minggu dan berganti jadi bulan serta tahun, akan terasa sekali kesepian itu muncul.
   Jadi kalau kita dapat menterjemahkan arti sebagai abdi negara, hidup kita akan terasa aman serta nyaman dan akan menjadi tumpuan dan harapan orang banyak, baik masih menjadi PN (pegawai negeri) maupun masa pensiun. Baik masih menjadi pegawai maupun sudah pensiun kedatangannya selalu ditunggu dan kepergiannya tidak dimau.
    Bangsa Indonesia masih dirasa sangat jauh dari kesadaran untuk bisa menempatkan diri sesuai dengan proporsi masing-masing bidang. Apalagi kalau kita kembalikan pada sisi agama bahwa bekerja itu merupakan ibadah, orang akan kembali kepada kesadaran bahwa semua ini akan terjadi dan kemungkinan akan menimpa pada kita semua.
   Kesadaran mempersiapkan diri kita untuk kembali ke masyarakat akan meningkatkan arti hidup semakin lebih hidup, sehingga membuat kehidupan ini semakin bermakna dan panjang deretan jasa yang ditinggalkannya. Kita berharap seperti palsafah kehidupan pohon pisang. Berapa kali ditebang pohon pisang tidak mau mati, bahkan selalu tumbuh dan dia mau mati kalau sudah memberi manfaat kepada orang lain yaitu pisang yang manis nan lezat.  Juga kematian gajah yang meninggalkan gadingnya bukannya seperti macan meninggalkan belangnya.
   Kesehatan adalah harta yang paling kita hargai dan cintai. Kalau kita bisa menyadari dimana bisa menempatkan diri apakah sebagai pegawai negeri, anggota masyarakat dan pejabat, kepala keluarga, ibu rumah tangga dan berbagai profesi yang lain, maka hidup ini akan terasa indah, imbang, dan tentram serta memunculkan energi positif sebagai penopang kesehatan baik jasmani maupun rokhani.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru itu Pelawak

        Pada zaman dulu seorang guru dengan bangganya tanpa membawa buku dapat menerangkan  engan tuntas selama 2 jam penuh. Itulah guru hebat saat itu. Guru berlomba-lomba dalam menstaranfer ilmunya dengan metode ceramah. Pokoknya guru menjadi pusat perhatian atau Teacher center. Waktu sepenuhnya untuk guru. Sedikit sekali anak didik terlibat dalam pemebelajaran. Maka rasa bosan akan muncul disepanjang pembelajaran.         Karena bosan maka guru harus dapat memberikan suasana riang gembira untuk mengusir rasa bosan atau bahkan rasa kantuk yang tidak terhingga. Apalagi jam-jam terakhir guru harus piawai dalam mengendalikan pembelajarannya. Dengan guru sebagai pelawak maka suasana akan kembali segar dan muah untuk melanjutkan pembelajarannya.      Perlunya rasa humor dalam pembelajaran sangat penting. Konsentrasi seseorang akan bisa bertahan paling lama 20 menit. "Kebanyakan guru tidak paham soal ini. Mereka bic...

GURU ITU ENTREPRENEUR

Guru harus dapat mempersiapkan anak didiknya   sukses di dunia. Sukses tidak hanya diukur dalam dunia materi. Namun dapat hidup dengan penuh makna. Hidup penuh makna itu seperti dalam hadits “ Qoirunnas anfauhumlinnas” . Sebaik baiknya manusia itu dapat menyenangkan orang lain. Jadi dimanapun mereka berada selalu menjadi bermakna bagi sekitarnya. Orang tua tidak harus disuguhi dengan nilai akademis yang tinggi, namun tunjukkan nilai kehidupan yang bermakna bagi orang lain. Saat ini sudah bukan eranya untuk mempersiapkan anak didik untuk menjadi pegawai. Mempersiapkan anak untuk berjiwa entrepreneur adalah tugas guru sekarang. Dunia sekarang sudah berubah. Walaupun guru bukan pelaku usaha atau jiwa entrepreneurship , namun menimal memberikan pilihan untuk mempersiapkan hidup ke depan seuai dengan bidang mata pelajarannya masing-masing. Dunia teknologi sudah menggrogoti jiwa anak sekarang. Dimanapun berada HP atau smartphone sudah mencandui generasi muda dimanapun be...

Guru Itu Perencana

Selama jadi guru penulis jarang sekali mepersiapkan perencanaan pembelajaran sebelum mengajar. begitu lamanya jadi guru sudah hapal materi dan metode yang akan diterapkan besuk paginya. Sehingga langsung masuk ke kelas melihat jurnal menyapa anak didik, Guru sudah hafal melakukan EEK.  malakukan arena ini guru