Tidak
Sekadar Pintar
Banyak
guru yang kurang piawai/mahir dalam
memotivasi siswa untuk belajar. Seolah-olah mereka sudah puas dengan hanya
mentransfer ilmu dengan baik. Namun di balik itu semua, masih banyak yang harus dilakukan untuk siswanya
diantaranya memberikan motivasi, membangkitkan semangat dan membakar niat dan menanamkan tanggung jawab untuk menggapai cita-cita.
Guru
pintar itu hebat, tetapi lebih hebat lagi
jika di dalam pembelajarannya sang guru mampu juga membangkitkan semangat siswanya untuk belajar terus walaupun tanpa diawasi dan
disuruh. Sehingga di rumahpun siswa akan semakin menyadari tugasnya
sendiri, walaupun orang tuanya tidak menunggui dan menyuruhnya.
Jadilah
Motivator
Saat ini
banyak cara yang dilakukan oleh sekolah untuk
membangkitkan motivasi siswanya. Ada diantaranya yang melakukan istighozah dengan mendatangkan Kyai/Ulama, ada juga motivator dengan tujuan memberikan kesadaran kepada siswanya untuk lebih
bertanggung jawab dalam belajarnya demi cita-citanya.
Untuk membiasakan gemar berinfaq atau sodaqoh seorang guru harus piawai dalam memberikan
pencerahan. Contoh: saat berada di tengah-tengah kelas, saya bertanya
kepada salah satu siswa mengenai uang saku “berapa banyak jumlah uang sakumu hari ini”. Dia menjawab: “empat ribu rupiah
pak”. Saya kembali bertanya, kepada semua siswa di dalam kelas, “masih berapakah sisa uang seandainya dari
uang saku tersebut diinfaqkan seribu rupiah?”. Seluruh siswa di kelas
kompak menjawab “masih sisa tiga ribu rupiah”. “Wao..pinter..anak-anak pin..pinter”, “betul nak itu betul menurut
ilmu matematika” saya menimpalinya. Sedangkan menurut ilmu agama itu
salah!, coba tanyakan ke guru agama
nanti akan berbeda jawabannya dengan guru matematika. Akhirnya terjadi
perdebatan antara teman sekelas dan ada yang nylethuk “kok
bisa” setelah agak lama saling berdebat dan berpikir…akhirnya mari kita
bahs bersama.
Di situlah
kita menjelaskan problema berinfaq. Kalau saya tanya sisa uang tiga ribu itu buat apa, mereka serempak
menjawab untuk membeli jajan…minun..penthol dll suara anak saling bersahutan. Kalau uang tersebut dibelikan jajan, terus jajan tersebut akan jadi apa? Jadi daging pak!, keringat pak, lemak, kotoran dll. Jadi intinya uang tiga ribu akhirnya
hilang dan bahkan menjadi kotoran yang setiap hari kita buang. Naaa..h jadi
uang tiga ribu hilang sedangkan yang seribu
masih utuh. Uang seribu masih utuh karena dicatat
oleh Malaikat Roqib dengan tinta emas sebagai amal kebaikan.
Setelah
kejadian tersebut, dalam satu hari pernah satu kelas yang hanya 19 siswa
berhasil mengumpulkan infaq sebesar Rp 51.000. Luar biasa!!! Bahkan semakin hari anak didik semakin temotivasi
untuk bersedekah. Ada kelas yang sampai
mengumpulkan infaq 117.000 dalam satu minggu, walaupun jumlah anaknya hanya 20. Hebat anakku, engkau memang pantas menjadi anak
didik yang mulai belajar menjadi orang kaya.
Semoga impian kalian tercapai.
Atau Jadi
Dalang
Guru tak
ubahnya dalang yang serba bisa dalam melakonkan berbagai watak dalam ratusan
wayang yang berbeda karakter sehari-harinya. Dalam perkembangannya, seni pedalangan semakin canggih saja dalam bentuk
penampilan, namun masih dalam koridor seni wayang kulit dengan berbagai
campuran seni yang lain. Seorang guru juga dapat meniru dalang yang selalu
dekat dengan wayangnya. Seandainya guru dekat dengan anak didiknya dengan
berbagai karakter, akan memberikan kehangatan yang dapat menimbulkan energi
positif untuk menambah metivasi belajar demi masa depannya.
Pada intinya, tujuan utama guru adalah mengarahkan dan
menghantarkan kesuksesan anak didiknya pada masa mendatang. Hasil akhir dari
berbagai proses yang dicoba oleh sang guru yang disesuaikan dengan potensi dasar yang dimiliki siswa, merupakan modal
dasar untuk diolah menjadi aset yang mahal harganya dan bisa menjadikan pijakan
hidup baik secara individu maupun sosial siswa dikelak kemudian hari.
Komentar
Posting Komentar