Edy Siswanto
SMPN 1 Karangrejo
SMPN 1 Karangrejo
Sudah saatnya
arah komuniksi antara anak didik dengan guru berubah. Kalau dulu guru merupakan
pusat segala-galanya, namun sekarang anak didik adalah pusat segala kegiatan
dan perhatian.
Anak
didik ibarat raja yang harus kita layani untuk kesuksesan di masa mendatang.
Guru harus bermanfaat bagi anak didiknya, “Khoirunnas
anfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang
paling bermanfaat bagi manusia lainnya)” Kita
sebagai guru harus memposisikan diri sebagai pelayan bagi anak didik kita.
Perhatikan Gambar tersebut bagaimana
guru saat berkomunikasi dengan anak didiknya. Guru mengambil posisi sederajat
dengan anak didiknya, sehingga anak akan merasa nyaman dan lebih berani serta
terjalin keakraban untuk berkomunikasi dengan gurunya. Bagaimana yang
dicontohkan oleh baginda Rosul Nabi akhir jaman yaitu Muhammad SAW, bahwa
seoarang Pemimpin tidak hanya melayani kaumnya namun juga melayani musuhnya.
Kisah itu bermula ketika Nabi ke masjid untuk sholat subuh, selalu
ada kotoran di depan rumahnya dan dengan sabar Nabi membersihkannya, suatu hari
kotoran tersebut tidak ada, sehingga nabi bertanya pada sahabat : “Kemana si
pembuang kotoran di depan rumah itu?, para sahabat
menjawab: “Dia sedang sakit”. Mendengar bahwa si
pembuang kotoran itu sakit, Nabi mengajak jamaahnya untuk bersama-sama menjenguk
setelah selesai melaksanakan sholat subuh. Setelah dido’akan
bersama-sama, akhirnya si pembuang kotoran tersebut sembuh, dan
seketika itu dia masuk Islam. Dari situ kita bisa membayangkan bagaimana
gambaran akhlak seorang pemimpin melayani rakyatnya bahkan musuhnya sekalipun.
Pegawai negeri
adalah abdi masyarakat, bukannya golongan ningrat sebab uang (gaji) yang kita
peroleh adalah dari rakyat. Jadi kita mendapat amanat dari rakyat untuk
melayaninya dengan baik dan ikhlas serta bersahabat. Pelayan harus menyenangkan majikan, bukan sebaliknya
malah minta diperhatikan. Pelayan harus mempermudah segala urusan bukannya mempersulit
orang lain.
Sebagian besar orang kita kalau
sudah menjadi pejabat susah untuk dicari, bukannya karena sibuk, tetapi
kelihatan menyibukkan diri, sehingga kelihatan menjadi orang penting yang sulit
untuk bertemu dengan rakyatnya. Kita perlu mencontoh presiden kita yang ke-4, Gus Dur,
dalam keinginannya untuk bertemu atau
menjamu rakyatnya, sampai dia membuka kantor sendiri demi rakyatnya yang
kemungkinan sulit untuk bertemu, karena
terbentur birokrasi protokoler kepresidenan.
Apalagi sosok seorang guru, yang
dianggap menjadi orang yang serba tahu, maka harus melayani siswanya seperti
bagaikan pembantu melayani majikannya. Guru sebagai pelayan harus bisa membuat
suasana menyenangkan. Kedatangannya membuat senang dan sebaliknya kepergiannya
akan terasa kurang serta hilang. Kedatangannya selalu dinanti dan selalu
memberikan penerangan bagaikan pelita dalam kegelapan.
Banyak diantara guru kita merasa
asing apabila mendekat dengan siswanya. Hal ini disebabkan masih terjaganya
jarak anatara guru dan siswanya untuk menjaga kewibawannya. Kewibawaan bukan
diperoleh dari sulitnya orang untuk ditemui, namun semakin banyaknya pengabdian
yang mereka tanamkan.
Guru yang efektif dan efisien
seperti “Tipe Guru Wajib” yang
diungkapkan Drs. Yusron Hadi Kepala
Sekolah SLTPN 3 Porong Sidoarjo, yaitu keberadaannya sangat disukai, harus ada,
wajahnya selalu jernih dengan penuh senyum, tutur katanya sopan, tak pernah
melukai hati siapapun, ramah, sabar, penampilan selalu rapi, etos kerjanya
sangat tinggi, tak ada istilah cari muka, tak memandang siswanya sebagai
bawahan, dan keadaan keluarganya serasi.
Kebiasaan kita senang kalau kita
disanjung, dipuji dan ABS (asal bapak senang) atau asal menyenangkan atasan
walaupun dengan jalan melaporkan hal-hal yang selalu baik meskipun sebenarnya
jelek atau belum selesai atau bahkan menipu sekalipun. Kebanyakan orang Indonesia memang demikian
adanya. Seperti yang diceritakan Gus Dur
dalam anekdotnya “Suatu ketika ada kapal yang mau tenggelam, sedangkan
penumpangnya dari berbagai negara. Disitu ada juga jin yang ingin membalas budi
dengan menolong orang-orang yang ada di situ, dengan berkata : ”Hei orang
Inggris kau minta apa?”, dia menjawab “Saya ingin
dipulangkan”, “Mengapa?”, “Karena apartemen saya bagus dan pabrik
saya tidak ada yang mengurus dsb”. Kemudian dengan kekuatannya sang Jin tersebut, dipulangkan orang Inggris itu. Sedang orang
Jerman ditanya juga sama ingin dipulangkan dengan alasan istrinya yang masih
muda, mobilnya yang bagus, dan pekerjaannya yang masih banyak. Tibalah
Jin bertanya kepada orang yang terakhir kebetulan dari Indonesia: “Minta apa
hei orang Indonesia?”, orang itu menjawab: “Saya minta
orang-orang yang tadi minta dipulangkan, dikembalikan lagi kesini.”, “ Mengapa?”, Jin
bertanya penuh curiga. “Karena kalau saya pulang tidak punya rumah, hutangnya
banyak, kos belum bayar sehingga lebih baik kita mati bersama di sini.”
Beginilah kebanyakan orang Indonesia kalau ada orang yang sukses, orang lain
akan tidak senang dan iri terhadapmya.
Sulit memahami sikap orang Indonesia
yang cenderung menutup diri. Mereka
tidak terbuka sehingga sulit juga untuk menyadari kenyataan diri
sendiri. Apalagi kalau profesi guru akan berakibat terhadap anak didik
sebagai generasi penerus kita. Guru merasa banyak ilmu sehingga malas untuk
membaca. Kadang-kadang kalau ditanya siswanya dan belum bisa menjawab, mereka
marah dan justru akan membunuh kreativitas anak didiknya.
Saya sering juga mengatakan kepada
anak didik untuk bertanya dan kalau perlu mengecek gurunya siap atau tidak,
kalau anda tidak pernah bertanya nanti akan ditipu. Ajaklah anak didik untuk
suka bertanya dan bersabarlah para guru untuk menjawabnya.
Kerterbukaan sangat didambakan semua
lapisan manusia, apalagi kita seorang guru yang salalu berhadapan dengan anak
didik yang selalu membutuhkan bantuan kepada orang lain. Manusia hidup di atas
pundak pribadi dan sosial. Kehidupan sosial inilah yang paling sulit untuk
dipelajari dan ditumbuh kembangkan secara baik dan benar serta inovatif. Guru
adalah penerang dalam kegelapan, tetapi jangan sampai seperti lilin yang
menerangi lingkungan tetapi mereka akan mati terbakar oleh
dirinya sendiri.
Negara kita
sekarang menjadi negara yang disetir (menjadi bola pingpong) negara lain. Negara
kita sebenarnya mempunyai potensi yang luar biasa baik dalam sumber daya
manusianya dan sumber daya alamnya. Tapi apa daya, negara kita hingga saat ini baru
mampu mengekspor tenaga kasar untuk menghidupi dan menambah devisa negara.
Hampir sembilan tahun sudah kita belum menemukan titik terang untuk mengatasi
krisis multi dimensi ini. Biaya ekonomi tinggi sebab semua pekerjaan harus
disertai upeti.
Indonesia yang selama ini “subur makmur dan gemah ripah loh jinawi”
hanya menjadi ajang perebutan dan pengerukan sumber daya alam oleh negara lain,
karena kita belum mampu untuk menemukan dan mengolahnya sendiri.
Indonesia saat ini baru dikenal karena
Pulau Bali dan Borobudurnya, serta kepolosan kita beramai-ramai mengirim tenaga
kasar untuk menambah pahlawan devisa kita, bukannya tenaga ahli yanga dihargai
dengan nilai tinggi.
Akhir kata, kita sebagai abdi,
pelayan, pembantu dan perantara masyarakat
harus tahu kondisi yang kita hadapi. Bukan malah sebaliknya kita minta diperhatikan dan dilayani, seperti
pegawai jaman penjajahan yang selalu dipuji dan diberi sesaji serta upeti.
Seharusnya guru selalu ditunggu
kedatangannya untuk menyampaikan ilmu (iptek dan imtaq) serta bersedia melayani sang generasi yang dinanti kehadirannya
di masa akan datang guna menggantikan generasi tua. Harapannya mereka bisa
menahkodai negara ini dengan penuh kesejahteraan dan keadilan serta
diperhitungkan oleh negara lain. Bukannya
menjadi pembantu di rumah sendiri.
Majalah Bulanan Pendidikan dan
Kebudayaan Jawa Timur. Agustus 2003 (Dengan Revisi.)
Komentar
Posting Komentar