Pada zaman dulu seorang guru dengan bangganya tanpa membawa buku dapat menerangkan engan tuntas selama 2 jam penuh. Itulah guru hebat saat itu. Guru
berlomba-lomba dalam menstaranfer ilmunya dengan metode ceramah. Pokoknya guru
menjadi pusat perhatian atau Teacher center. Waktu sepenuhnya untuk guru.
Sedikit sekali anak didik terlibat dalam pemebelajaran. Maka rasa bosan akan
muncul disepanjang pembelajaran.
Karena bosan maka guru harus dapat
memberikan suasana riang gembira untuk mengusir rasa bosan atau bahkan rasa
kantuk yang tidak terhingga. Apalagi jam-jam terakhir guru harus piawai dalam
mengendalikan pembelajarannya. Dengan guru sebagai pelawak maka suasana akan
kembali segar dan muah untuk melanjutkan pembelajarannya.
Perlunya rasa humor dalam pembelajaran
sangat penting. Konsentrasi seseorang akan bisa bertahan paling lama 20
menit. "Kebanyakan guru tidak paham soal ini. Mereka bicara di depan
kelas bisa lebih dari 50 menit,," kata Direktur Pusat Neurosains
Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dr Rizki Edmi Edison PhD.nya
pada seminar bertema "Strategi Pembelajaran Berbasis Neurosains" di
Uhamka Jakarta. Ia menganjurkan, setiap 20 menit penyampaian pelajaran, siswa
diberi waktu istirahat dengan disuruh bergerak, berdiri atau berjalan keluar
kelas, sehingga dalam beberapa menit siswa bisa kembali duduk menerima
pelajaran dengan konsentrasi yang maksimal. (https://www.suara.com/tekno/2016/09/10/154100).
Pemberian waktu istirahat atau
sekarang dikenal istilah ice breaking dapat dilakukan dengan
bermacam-macam kegiatan. Seperti bernyanyi, mengucapkan yel-yel mungkin juga
menari dan bercerita juga disuruh nonton video dll.
Jadi guru itu memang sulit.
Disinilah pentingnya guru sebagai pelawak dapat mengembalikan konsentrasi diri untuk
berprestasi tinggi.
Komentar
Posting Komentar