Langsung ke konten utama

GURU ITU KULI



Edy Siswanto

Tugas utama guru adalah merencanakan, menyampaikan materi dan menilainya. Tindak lanjutnya adalah  memberikan pengayaan dan remidi. Yang sering dilakukan oleh guru adalah remidi dalam rangka memenuhi standard nilai yang telah ditentukan. Sedangkan anak yang pandai sering tidak mendapatkan pelayanan. Disnililah anak yang cerdas akhirnya membuat percikan gangguan. Mereka bosan karena yang diperhatikan hanya temannya yang belum tuntas. Pun materi selalu diulang semakin membuat bosan di kelas. Disinilah peran guru harus tuntas dalam melayani anak didik, baik  yang slow learner dan faster.  
Dalam prakteknya sebagian besar guru hanya menyampaikan ilmu. Untuk urusan menilai itupun masih hanya memenuhi tagihan dari wali kelasnya. Hasil penilaian jarang sekali ditindak lanjuti. Mereka hanya memperhatikan anak yang belum mencapai ketuntasan belajar. Akhirnya guru meremidi untuk memenuhi Kriteria ketuntasan Minimal dan anehnya ya dituntas-tuntaskan. Mereka tidak berani mengambil resiko lebih dalam. Guru semacam ini layak disebut guru itu kuli.  

Kuli adalah pekerjaan yang hanya memberikan pelayanan dari apa yang dibutuhkan oleh tukangnya. Hanya memenuhi standard pokok yang diembannya. Kalau seorang guru hanya masuk kelas meyampaikan ilmunya dan menilai itu pekerjaan yang berstandar kuli. Berarti guru seperti ini, sangat tidak layak untuk disebut guru professional.

Kuli itu mendapatkan gaji sesuai dengan kinerjanya. Tidak ada tambahan keahlian. Sama dengan guru yang hanya menyampaikan ilmunya itu juga sama dengan kuli. Maka layak hanya mendapatkan gaji standard satu kali gaji  ASN.
Saat ini jarang sekali guru melakukan persiapan. Mereka berpikir sudah pekerjaan setiap hari. Mereka sudah hapal dari setiap harinya. Berbeda dengan yang dilakukan oleh Guru di Jepang dalam Lesson Study nya, selalu melakukan tiga langkah yaitu Plan Do dan see. Akhirnya mereka selalu piawai dalam pembelajaran. Mereka bak Artis yang menggung di depan penggemarnya. Artisnya puas dan penontonnyapun luar biasa apresiasinya. Akhirnya guru seperti Artis layak mendapatkan TPP.
Pantaskah guru itu kuli mendapatkan Tunjangan Profesi Pendidik? Jawabnya tidak pantas. Karena tunjangan profesi pendidik tidak hanya menyampaikan ilmu selesailah sudah. Namun banyak tugas yang mengakibatkan anak didiknya berubah menuju kesuksesan di dunia dan akherat.
Wahai bapak ibu guru pantaskan kita mendapatkan Tunjangan Profesi Guru/Pendidik?.
 Jawabnya hanya ada dihati masing-masing. Bolehkah saya sebut 70 % belum layak?. Maka Menteri Keuangan sering meledek kepada Menteri Pendidikan kita. Pak Muhajir uang Tunjangan Profesi Guru (TPG) sebesar Rp 79,6 triliun kok tidak ada dampaknya gimana sih Pak? 
Apakah kualitas pendidikan kita menigkat?
Geleng geleng Pak Muhajir. Kata Kepala LPMP Jawa Timur, Bapak Bambang.


 Mari kita berpacu dalam Ilmu, Berkreasi dalam Literasi dan Seni serta Berkarya dalam Sastra!!!!!.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru itu Pelawak

        Pada zaman dulu seorang guru dengan bangganya tanpa membawa buku dapat menerangkan  engan tuntas selama 2 jam penuh. Itulah guru hebat saat itu. Guru berlomba-lomba dalam menstaranfer ilmunya dengan metode ceramah. Pokoknya guru menjadi pusat perhatian atau Teacher center. Waktu sepenuhnya untuk guru. Sedikit sekali anak didik terlibat dalam pemebelajaran. Maka rasa bosan akan muncul disepanjang pembelajaran.         Karena bosan maka guru harus dapat memberikan suasana riang gembira untuk mengusir rasa bosan atau bahkan rasa kantuk yang tidak terhingga. Apalagi jam-jam terakhir guru harus piawai dalam mengendalikan pembelajarannya. Dengan guru sebagai pelawak maka suasana akan kembali segar dan muah untuk melanjutkan pembelajarannya.      Perlunya rasa humor dalam pembelajaran sangat penting. Konsentrasi seseorang akan bisa bertahan paling lama 20 menit. "Kebanyakan guru tidak paham soal ini. Mereka bic...

GURU ITU ENTREPRENEUR

Guru harus dapat mempersiapkan anak didiknya   sukses di dunia. Sukses tidak hanya diukur dalam dunia materi. Namun dapat hidup dengan penuh makna. Hidup penuh makna itu seperti dalam hadits “ Qoirunnas anfauhumlinnas” . Sebaik baiknya manusia itu dapat menyenangkan orang lain. Jadi dimanapun mereka berada selalu menjadi bermakna bagi sekitarnya. Orang tua tidak harus disuguhi dengan nilai akademis yang tinggi, namun tunjukkan nilai kehidupan yang bermakna bagi orang lain. Saat ini sudah bukan eranya untuk mempersiapkan anak didik untuk menjadi pegawai. Mempersiapkan anak untuk berjiwa entrepreneur adalah tugas guru sekarang. Dunia sekarang sudah berubah. Walaupun guru bukan pelaku usaha atau jiwa entrepreneurship , namun menimal memberikan pilihan untuk mempersiapkan hidup ke depan seuai dengan bidang mata pelajarannya masing-masing. Dunia teknologi sudah menggrogoti jiwa anak sekarang. Dimanapun berada HP atau smartphone sudah mencandui generasi muda dimanapun be...

Guru Itu Perencana

Selama jadi guru penulis jarang sekali mepersiapkan perencanaan pembelajaran sebelum mengajar. begitu lamanya jadi guru sudah hapal materi dan metode yang akan diterapkan besuk paginya. Sehingga langsung masuk ke kelas melihat jurnal menyapa anak didik, Guru sudah hafal melakukan EEK.  malakukan arena ini guru