Mengapa Guru Pelit?
Pelit
adalah orang yang tidak mau memberikan sebagian hartanya kepada orang yang
membutuhkannya. Namun pelit di sini
adalah guru yang tidak mau memberi tuntunan dan tontonan kepada anak didiknya.
Bahkan ada sebagian guru yang mempunyai keahlian khusus, namun belum menularkan
kepada anak didiknya. Memang sebagian besar guru kita masih “peliiiit..”
Kehidupan
di sekolah tidak ubahnya keluarga di rumah tangga. Ada orang tua atau guru, ada
anak didik dan ada orang lain yaitu tenaga non kependidikan (karyawan tata
uasaha). Orang tua di rumah selalu memberikan pengawasan dan suri tauladan
serta pembelajaran kepada buah hatinya. Orang tua selalu memberikan saran dan
peringatan ketika melihat buah hatinya melakukan pelanggaran atau kesalahan.
Hal itu dilakukan setiap saat dan terus menerus sehingga anaknya tidak akan
melakukan kesalahan atau melanggar aturan baik yang disepakati keluarga maupun
tidak.
Berilah Tuntunan
Guru
seharusnya juga berperan sebagai orang tua di sekolah. Kewajiban mereka sama
dengan orang tua di rumah. Mereka harus memberikan tuntunan dan tontonan kepada
anak didiknya. Tuntunan berarti memberikan pembelajaran serta peringatan ketika
melihat anak didiknya melakukan kesalahan atau pelanggaran peraturan sekolah
maupun norma yang ada. Perlakuan guru
terhadap anak didiknya bagaikan mendidik anaknya sendiri. Kalau hal itu terjadi
luar biasa anak didik kita dan juga guru kita. Sedangkan tontonan adalah guru
harus memberikan contoh atau suri tauladan kepada anak didiknya. Tontonan
inilah yang paling berat dalam mendidik anak didik kita. MemberI contoh
disegala bidang memang berat, namun itu harus dilakukan. Memberi contoh
berpakaian, beribadah, berdisiplin, bertanggung jawab, kreatif, jujur,
visioner, adil, selalu positif thingking, sabar, santun, suka beramal, dan
masih banyak lagi yang lainnya.
Kenyataan
yang ada, sebagian besar guru masih hanya sebatas memberikan ilmu di ruang
kelas selesailah sudah. Kondisi itu sangat terasa ketika guru belum mendapatkan
Tunjangan Profesi Pendidik. (TPP). Mereka mengajar di ruang kelas dan
selebihnya pulang. Mereka tidak memperhatikan bagaimana etika dan sopan santun
serta perilaku anak didiknya di luar kelas. Mereka sibuk mencari tambahan
nafkah dengan menebalkan uang sakunya di luar. Ada yang menjadi tukang ojek,
ada yang bertani, beternak juga dagang serta jual jasa dan mejadi perantara
atau makelar juga aktif memberi les di luar sekolah dsb.
Sudah Pelit Kejam Lagi
Sangat
kejam guru itu! Mengapa?
@ Karena belum menyentuh sampai ke
ranah pendidikan afektif.
@ Karena belum memberi peringatan
ketika anak didiknya melanggar peraturan.
@ Karena belum memberi contoh
keteladanan.
@ Bahkan ikut-ikutan tidak disiplin,
sehingga guru itu selain kejam juga “pelit”.
Sekali lagi pelit
bukan chetil bin kikir, namun pelit dalam membina akhlak mulia anak didiknya. Kepelitan itu
diantarnya: pelit dalam mengajak sholat, pelit dalam memberi pesan kepada anak
didiknya, pelit dalam memberi teguran kepada anak didiknya, pelit dalam memberi
sangsi, pelit dalam menegur anak apabila berbuat salah, pelit dalam
berkomuikasi, pelit dalam bercanda dengan anak didiknya, pelit untuk tidak mau duduk bersama dengan anak
didiknya, pelit dalam
memberi tambahan materi pelajaran, pelit dalam memberi suri tauladan dan
berbagei pelit yg lainnya.
Seandainya
guru itu tidak pelit, maka setiap saat guru akan melayani anak didiknya
layaknya harapan dan impian orang tua terhadap anaknya sendiri.
Masih
pantaskah kita disebut guru????
Komentar
Posting Komentar