Langsung ke konten utama

GURU ITU HAKIM

Kita sering mendengar dari berbagai obrolan baik dalam situasi formal maupun di pinggir jalan atau warung-warung bahwa maling/pencuri pitik (ayam) dihukum satu tahun, tetapi kalau maling milyaran rupiah hanya tiga bulan penjara. Harus dimulai dari mana untuk membuat semua warga patuh pada aturan yang berlaku dan malu akan perbuatan yang salah?
Sebetulnya peringatan untuk tidak melanggar aturan berada dimana-mana, seperti pada bulan puasa saat sholat tarrawih dan subuh selalu ada siraman rokhani, saat pagi dan siang polisi selalu mengatur jalan supaya tidak macet, adanya rambu-rambu lalu lintas di tiap ruas jalan, himbauan dan penjelasan mengenai hukum, ada kadarkum di desa-desa dan pencerahan di berbagai media massa serta media elektronik, namun fenomena itu hanya sebagai kilasan rutin tanpa makna.
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat  tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Nyanyian yang dilantunkan  Ebit G.A.D. dalam lagunya Berita Kepada Kawan, sekarang merebak kembali. Para remaja dengan lantangnya bercerita tentang kesalahan dan kejahatan yang telah dia lakukan.
Hukum sekarang sudah tidak bisa menjadi sandaran untuk mencari keadilan. Apakah kita menanti akan kemarahan Tuhan yang akan menurunkan hukum karma? Saat ini saja sudah kewalahan menerima hukum karmi. Seperti bencana alam yang melanda dimana-mana tidak hanya di negara kita, juga berbagai macam penyakit yang muncul akibat alam yang sudah tidak bersahabat lagi.
Kita sebagai guru sering sekali dihadapkan pada problematika siswa yang mestinya perlu perhatian dan pemecahan. Masih banyak guru kita yang kurang sekali memposisikan diri sebagai hakim dalam proses pengadilan terhadap pelanggaran siswanya. Dimulainya hakim yang kurang tegas dalam memutuskan perkaranya, mungkin juga berawal dari guru yang kurang tegas pula dalam memberikan sanksi terhadap pelanggaran siswa didiknya. Kalau kita mencoba menangani pelanggaran sekecil apapun yang dilakukan siswa, kemungkinan di kelak kemudian hari siswapun akan menjadi aset bangsa yang patuh dan jika menjadi hakim dan jaksapun akan tegas dan berani membela kebenaran, bukannya membela yang bayar.
Guru harus bertindak cepat dan sportif dalam pengambilan keputusan. Contoh yang sederhana : Siswa yang tidak berbahasa baik dan benar harus segera mendapat teguran dan tuntunan untuk diluruskan. Seperti kejadian yang setiap hari kita temui apabila siswa bertamu ke kantor TU, guru, atau Kepala Sekolah. Kronologisnya biasa dari ketuk pintu – asalamualaikum – minta kapur, minta tanda tangan Bu, Pak, dsb. Kebanyakan kita membiarkan hal itu, padahal siswa tersebut melakukan kesalahan yang sangan mendasar. Kita harus langsung memberikan teguran dan memberikan contoh seperti : ketuk pintu, lalu mengucapkan assalamualaikum (bagi yang Islam) baru mohon maaf mengganggu sebentar bolehkah saya minta kapur, dsb.
Pelanggaran sekecil apapun kalau kita benahi InsyaAllah akan berjalan mulus dan teratur serta lancar dan yang penting menyadari akan kesalahan yang diperbuat sehingga tidak akan mengulang lagi. Seperti paradigma baru yang harus diprioritaskan dalam kurikulum sekarang adalah siswa bertindak/berbuat bukan karena dorongan dari luar, tetapi atas inisiatif  yang timbul dari kata hati, bisikan jiwa atau intuisi diri (intrinsik).
Dalam dunia pendidikan, pelanggaran seperti menyontek dan melihat kerjaan teman, merupakan pelanggaran yang sangat berat, namun kebanyakan hal tersebut seperti dibiarkan berlalu tanpa kesan. Sekali kita membiarkan untuk nyontek akan terjadi pelanggaran berikutnya, dan berdampak sangat luas, seperti kebohongan ketika masuk perguruan tinggi memaki joki, tidak bertanggung jawab, penipuan diri, menyepelekan hukum serta hakim (guru), dan yang paling parah tidak menyadari akan kesalahan yang diperbuat juga dosa yang ditanggung.
Dalam kehidupan sehari-hari, biang kerok dari segala kejahatan adalah minum khamr atau minuman keras. Dalam kisah diceritakan ada remaja yang sangat alim serta berbudi peketi luhur. Setan pun tergiur untuk menggoda remaja tersebut. Remaja itu dihadapkan pada tiga pilihan besar yang harus dipilih salah satu, yaitu  membunuh bayi, menzinai gadis cantik, atau minum minuman keras. Dengan penuh pertimbangan, pemuda tersebut akhirnya milih nomor minum khamr dengan pertimbangan tidak merugikan orang lain. Namun setelah minum minuman keras, remaja tersebut membunuh seorang bayi dan menzinai gadis cantik karena mabuk. Jadi bisa disimpulkan bahwa minum minuman keras merupakan pangkal tolak dari segala kejahatan. Sedangkan dalam dunia pendidikan pangkal kejahatan itu adalah menyontek.
Untuk mengerem lajunya siswa melakukan contekan adalah segera melakukan perundingan kedua belah pihak antara guru dan siswa. Seandainya nanti ada yang mencoba mencontek maka akan ada sangsi seperti yang telah disepakati. Minimal sangsi sederhana mulai dari peringaan sampai tindakan. Kalau peringatan belum menjadikan siswa berhenti curang, bisa dilakukan tindakan seperti :
Ø  Memindah tempat atau  bisa mengerjakan di luar ruangan,
Ø  Mengurangi nilai,
Ø  Menyuruh siswa mengerjakan 5 kali –10 kali,
Ø  Tidak boleh mengikuti ulangan,
Ø  Menyuruh lari keliling lapangan,membersihkan WC, (hukuman fisik push up dll),
Ø  Menyuruh membuat surat pernyataan yang diketahui orang tua/wali dan wali kelas juga guru-guru,
Ø  Memberikan denda sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, misalnya Rp 1000,00 atau Rp 2000,00),
Ø  Menyuruh minta tanda tangan kesemua siswa,
Ø  Menyobek kertas ulangan,
Ø  dan sebagainya.
Hukuman tersebut harus bertahap sehingga siswa betul- betul jera untuk tidak mengulangi lagi.
Guru digugu dan ditiru. Guru harus berani memberikan sangsi terhadap pelanggaran sekecil apa pun. Sportivitas dalam pengambilan sangsi harus dimulai sedini mungkin baik dari rumah, sekolah dan masyarakat. Kalau kita sudah bisa bertindak sebagai hakim di mana pun dan kapan pun, akan lancarlah tujuan kita untuk membentuk manusia yang utuh mandiri sesuai dengan tujuan pendidikan kita yang secara akal sulit dicapai.
Wahai teman-teman, memang sangat beratlah tugas kita, untuk menyongsong hari esok yang penuh harapan dan impian. Dari mana kita harus memulai? Para pakar berkata: Kalau mau bersih-bersih, alat kebersihan itulah yang harus bersih duluan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru itu Pelawak

        Pada zaman dulu seorang guru dengan bangganya tanpa membawa buku dapat menerangkan  engan tuntas selama 2 jam penuh. Itulah guru hebat saat itu. Guru berlomba-lomba dalam menstaranfer ilmunya dengan metode ceramah. Pokoknya guru menjadi pusat perhatian atau Teacher center. Waktu sepenuhnya untuk guru. Sedikit sekali anak didik terlibat dalam pemebelajaran. Maka rasa bosan akan muncul disepanjang pembelajaran.         Karena bosan maka guru harus dapat memberikan suasana riang gembira untuk mengusir rasa bosan atau bahkan rasa kantuk yang tidak terhingga. Apalagi jam-jam terakhir guru harus piawai dalam mengendalikan pembelajarannya. Dengan guru sebagai pelawak maka suasana akan kembali segar dan muah untuk melanjutkan pembelajarannya.      Perlunya rasa humor dalam pembelajaran sangat penting. Konsentrasi seseorang akan bisa bertahan paling lama 20 menit. "Kebanyakan guru tidak paham soal ini. Mereka bic...

GURU ITU ENTREPRENEUR

Guru harus dapat mempersiapkan anak didiknya   sukses di dunia. Sukses tidak hanya diukur dalam dunia materi. Namun dapat hidup dengan penuh makna. Hidup penuh makna itu seperti dalam hadits “ Qoirunnas anfauhumlinnas” . Sebaik baiknya manusia itu dapat menyenangkan orang lain. Jadi dimanapun mereka berada selalu menjadi bermakna bagi sekitarnya. Orang tua tidak harus disuguhi dengan nilai akademis yang tinggi, namun tunjukkan nilai kehidupan yang bermakna bagi orang lain. Saat ini sudah bukan eranya untuk mempersiapkan anak didik untuk menjadi pegawai. Mempersiapkan anak untuk berjiwa entrepreneur adalah tugas guru sekarang. Dunia sekarang sudah berubah. Walaupun guru bukan pelaku usaha atau jiwa entrepreneurship , namun menimal memberikan pilihan untuk mempersiapkan hidup ke depan seuai dengan bidang mata pelajarannya masing-masing. Dunia teknologi sudah menggrogoti jiwa anak sekarang. Dimanapun berada HP atau smartphone sudah mencandui generasi muda dimanapun be...

Guru Itu Perencana

Selama jadi guru penulis jarang sekali mepersiapkan perencanaan pembelajaran sebelum mengajar. begitu lamanya jadi guru sudah hapal materi dan metode yang akan diterapkan besuk paginya. Sehingga langsung masuk ke kelas melihat jurnal menyapa anak didik, Guru sudah hafal melakukan EEK.  malakukan arena ini guru